Cara Melestarikan Lingkungan

By | August 26, 2021
merawat alam

Pelestarian lingkungan hidup sangat penting dilakukan untuk menunjang kualitas hidup manusia serta makhluk hidup lain yang berada di dalamnya. Jika lingkungan hidup terjaga, maka kualitas hidup manusia dan semua makhluk hidup akan menjadi lebih baik. Demikian pula sebaliknya, jika pelestarian lingkungan gagal karena tak adanya kesadaran manusia untuk mengemban tanggung jawab tersebut, maka kualitas hidup manusia terancam, demikian pula eksistensinya.

A. Keadaan Lingkungan yang Ideal

Lingkungan ideal adalah lingkungan yang mampu menaikkan kualitas hidup manusia, untuk kelangsungan hidupnya. Kriteria dari kualitas hidup ideal manusia sendiri bisa diukur dari:

  • Bisa atau tidaknya manusia memenuhi kebutuhan sebagai makhluk hayati. Misalnya kebutuhan pada udara segar, air bersih, makanan bergizi, dapat memperbanyak keturunan, pengobatan apabila sakit, dan kehidupan yang aman dari serangan penyakit atau perang.
  • Bisa atau tidaknya manusia memenuhi kebutuhan hidup sebagai makhluk manusiawi. Namun kriteria ini lebih bersifat relatif, sesuai dengan keadaan iklim atau budaya yang berlaku di tempat kediamannya. Misalnya, kualitas kebutuhan hidup secara manusiawi di Eropa, akan berbeda dengan kualitas kebutuhan hidup di Indonesia. Jika di Eropa ada kebutuhan manusiawi akan pakaian musim dingin, maka di Indonesia tidak.

Secara Ekologi, manusia merupakan salah satu bagian integral dari lingkungan tempat hidupnya. Sehingga semakin tinggi kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, termasuk kemampuan manusia memanfaatkan lingkungan dengan bijaksana tanpa perlu melakukan eksploitasi besar-besaran, maka kualitas hidupnya akan meningkat.

Melakukan pembangunan demi peningkatan kualitas hidup manusia pun, seharusnyalah berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Sebab bila manusia melakukan pembangunan tanpa adanya kepedulian pada wawasan lingkungan yang tetap terjaga, maka suatu hari kelak kehancuran pada lingkungan akan terjadi. Itu berarti kehancuran pula bagi kehidupan manusia.

Termasuk di dalam melakukan pembangunan yang berwawasan lingkungan itu adalah, dengan meminimalisir pencemaran dan kerusakan lingkungan, mengurangi konsumsi segala hal yang berasal dari sumber daya alam, dan meningkatkan kualitas hidup non materi yang tak bergantung pada sumber daya alam. Misalnya dengan makin menggiatkan seni, filsafat, budaya, ilmu, dan lainnya sebagai sumber perekonomian masyarakat.

B. Kerusakan Lingkungan Hidup yang Telah Terjadi

Dalam Al-qur’an, Allah SWT telah mengisyaratkan bahwa adanya kerusakan alam itu merupakan hal yang nyata dan pasti terjadi. Sebab, manusia dan alam adalah makhluk yang tak sempurna dan tak abadi. Di antara kerusakan yang telah ada di muka bumi itu adalah dibagi menjadi 2, yaitu kerusakan yang terjadi secara alami dan akibat perbuatan manusia.

Kerusakan Alami

  • Gunung meletus. Kerusakan yang disebabkan oleh gunung meletus adalah kerusakan pada perumahan, ladang, sawah, hutan, akibat lontaran material baik itu padat, gas beracun, awan panas, lahar, yang berada di sekitar gunung.
  • Gempa Bumi. Kerusakan akibat gempa bumi adalah rusaknya berbagai infrastruktur yang dibuat manusia seperti jalan, jembatan, rumah dll. Gempa bumi dapat pula menimbulkan tsunami jika pusat gempa terjadi di laut. Tanah longsor pun dapat terjadi akibat gempa, sebab goncangan yang hebat.
  • Badai Siklon. Siklon adalah tekanan udara rendah yang berwujud angin topan atau badai. Kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh angin siklon adalah rubuhnya rumah, rusaknya sawah, rusaknya lahan pertanian, dan lainnya. Bentuk badai siklon berbeda tergantung letak negaranya. Jika di daerah Amerika badainya dikenal sebagai tornado. Di Indonesia dikenal sebagai angin puting beliung.

Kerusakan Akibat Perbuatan Manusia

  • Kerusakan Hutan. Paru-paru dunia adalah hutan, karena hutan penuh dengan tumbuhan penghasil oksigen. Selain itu, ada banyak kebutuhan manusia yang dapat diambil dari hutan, semisal rotan, kayu, sumber air, serta hewan-hewan. Namun karena keserakahan, terkadang manusia melakukan eksploitasi besar-besaran tanpa memikirkan lagi kerusakan lingkungan yang dapat terjadi pada hutan. Padahal jika hutan rusak, akan terjadi perubahan iklim ekstrem seperti yang telah terjadi kini, punahnya beberapa jenis hewan dan tanaman karena habitat hidupnya dirusak, serta banjir bandang sebab air tak punya tempat meresap karena akar pohon telah hilang.
  • Pencemaran. Pencemaran lingkungan dapat terjadi bila manusia memproduksi limbah hasil kegiatannya (industri atau rumah tangga), dan limbah itu masuk ke dalam lingkungan hidup sehingga kualitas lingkungan menjadi turun dan tak sesuai peruntukkannya lagi. Misalnya sungai yang telah tercemar limbah, tak akan dapat menjadi habitat alami bagi ikan, serta memenuhi kebutuhan hidup manusia akan air bersih.
  • Limbah terbagi menjadi: limbahpadat (sampah rumah tangga, sampah rumah sakit, sampah peternakan, dan lainnya), dan limbah cair (limbah rumah tangga, limbah pabrik yang mengandung zat kimia/zat berbahaya), serta gas yang menyebabkan pencemaran udara (berasal dari buangan kendaraan bermotor, pabrik, serta rumah tangga).

C. Usaha Pelestarian Lingkungan Hidup

Dengan berbagai kemungkinan terjadinya kerusakan terhadap lingkungan hidup di atas, maka perlu adanya suatu usaha untuk pelestarian lingkungan hidup. Yaitu usaha untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup pada tekanan perubahan dan dampak negatifnya. Ini adalah sebuah upaya yang harus dilakukan oleh manusia pada semua generasi, demi kelangsungan hidup ras manusia sendiri.

Usaha pelestarian lingkungan hidup tersebut dapat berupa:

Melestarikan hutan

Manusia selayaknya mampu mengendalikan sifat keserakahan dalam mengeksploitasi hutan dengan melakukan kegiatan TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia), melakukan reboisasi atau penanaman kembali pohon yang telah ditebang, melakukan tumpang sari antara pohon hutan dan tanaman pangan, serta berbagai hal yang menunjang pelestarian hutan.

Melestarikan sumber air dan tanah

Cara melestarikan sumber air adalah dengan tetap membiarkan hutan di sekitar sumber air tumbuh tanpa melakukan penebangan liar. Penggunaan air secara hemat dan bijaksana pun dapat membantu pelestarian air bersih. Tidak membuang-buang air bersih untuk kegiatan semacam menyiram jalan raya, mencuci kendaraan dengan air berlebihan, dan tak membuang sampah dan limbah pada aliran sungai atau kali.

Melestarikan sumber daya hayati

Ada begitu banyak tumbuhan yang hampir mendekati kepunahan karena tak mendapat perhatian pada budi dayanya, dan banyak diburu untuk diperjualbelikan. Demikian pula dengan hewan-hewan yang hampir langka sebab diburu secara membabi buta.
Melestarikan sumber daya udara. Udara bersih akan membuat kesehatan manusia menjadi lebih baik. Karenanya, melestarikan sumber daya udara sangat penting pula diperhatikan dengan cara melakukan penyaringan terhadap pembuangan limbah gas pabrik, uji emisi untuk kendaraan bermotor, memperbanyak penanaman pohon di perkotaan, serta mulai mencari sumber energi lain selain minyak bumi, yang banyak menimbulkan polusi udara.

D. Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Arti dari pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha peningkatan kualitas hidup manusia tanpa mengabaikan faktor lingkungan. Jadi, seoptimal mungkin dalam melakukan pembangunan, manusia memanfaatkan kekayaan alam, sumber daya manusia, serta ilmu pengetahuan dengan bijaksana dan serasi.

Sebagaimana gagasan yang dicetuskan dalam KTT Bumi di Rio de Jenairo tahun 1992 mengenai pembangunan yang berkelanjutan:

  1. Gagasan kebutuhan, terutama kebutuhan pokok guna menopang hidup, maka diutamakan untuk memenuhi kebutuhan kaum miskin.
  2. Gagasan keterbatasan, yaitu terbatasnya kemampuan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan, di masa kini dan masa yang akan datang.

Hal yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan adalah:

  • Pembangunan selayaknya dilakukan secara kontinyu atau terus-menerus, namun dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan.
  • Pembangunan harus membawa adanya peningkatan kesejahteraan generasi saat ini dan generasi masa mendatang.
  • Karena keterbatasan lingkungan hidup, maka pada pembangunan akan terjadi penciutan dan pengurangan pemanfaatannya.
  • Jika kualitas lingkungan hidup makin baik, maka usia harapan hidup manusia akan meningkat.
  • Sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui seharusnya dimanfaatkan dengan hemat, dan berusaha dicarikan alternatif penggantinya.

E. AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan)

Sejarah kemunculan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) bermula dari kerusakan lingkungan parah yang disebabkan oleh manusia. Kerusakan parah tersebut memicu reaksi masyarakat di Amerika, sehingga dibuatlah NEPA (National Environmental Policy Act) atau undang-undang lingkungan hidup di tahun 1969.

Manfaat AMDAL adalah untuk meminimalkan, atau menghindari kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi akibat adanya pembangunan, agar pembangunan dapat terus berkelanjutan dalam jangka panjang. Kerusakan lingkungan yang terjadi dengan dalih pembangunan dapat menghancurkan masyarakat sendiri sehingga kesejahteraan yang dicita-citakan tak akan dapat terlaksana.

Setiap proyek pembangunan harus melakukan AMDAL terlebih dahulu, sebab jika tidak maka akan melanggar undang-undang. Pemerintah berhak melarang sebuah proyek pembangunan jika tak memiliki AMDAL, atau berpotensi merusak lingkungan.
Siapakah pihak yang bertanggung jawab melakukan AMDAL dalam sebuah proyek pembangunan? Tentunya adalah pemilik proyek atau pemrakarsa proyek. Jika tidak mampu melaksanakan, maka pemilik proyek dapat meminta bantuan konsultan atau lembaga pendidikan seperti universitas yang memiliki tenaga terdidik.